Hal tersebut disampaikan Muhudar saat menghadiri Syukuran Milad ke-43 Yayasan An-Nur Tahun 2026 yang mengusung tema “Milad dalam Perspektif Islam Rahmatan lil ‘Alamin”, di Kota Sorong, Selasa (11/8/2026).
Muhudar menyampaikan apresiasi atas perjalanan panjang Yayasan An-Nur yang telah memasuki usia 43 tahun. Menurutnya, usia tersebut merupakan catatan panjang pengabdian, perjuangan, kesabaran, dan keteguhan dalam mempertahankan cita-cita lembaga.
Atas nama pribadi dan Kementerian Agama Kota Sorong, ia menyampaikan selamat kepada seluruh keluarga besar Yayasan An-Nur. Ia berharap perjalanan pengabdian yang telah dibangun selama 43 tahun terus mendapatkan ridha dan keberkahan dari Allah SWT serta semakin luas memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Muhudar, tema “Milad dalam Perspektif Islam Rahmatan lil ‘Alamin” memiliki makna yang sangat penting. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengajarkan bagaimana menghadirkan kebaikan, kedamaian, kasih sayang, dan kemanfaatan bagi sesama serta lingkungan.
Karena itu, semangat Rahmatan lil ‘Alamin diharapkan menjadi ruh dalam setiap langkah pengabdian Yayasan An-Nur, terutama melalui pendidikan, pembinaan, keteladanan, dan pelayanan kepada masyarakat.
“Yayasan An-Nur harus terus hadir sebagai rahmat. Hadir dengan ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, pelayanan yang tulus, semangat persaudaraan, serta kepedulian terhadap masyarakat Kota Sorong dan Papua Barat Daya,” ujar Muhudar.
Muhudar mengajak keluarga besar Yayasan An-Nur memaknai nama An-Nur yang berarti cahaya sebagai spirit dalam menjalankan pengabdian.
Menurutnya, cahaya tidak memilih siapa yang boleh diterangi. Cahaya hadir untuk menerangi. Karena itu, Yayasan An-Nur diharapkan mampu menghadirkan cahaya melalui pendidikan dan pengabdian dengan mencerdaskan, membimbing, memuliakan, serta memberikan harapan kepada generasi muda.
“Cahaya tidak memilih siapa yang boleh diterangi. Cahaya hadir untuk menerangi. Demikian pula hendaknya Yayasan An-Nur. Teruslah menjadi cahaya melalui pendidikan dan pengabdian; mencerdaskan, membimbing, memuliakan, serta memberikan harapan kepada generasi muda,” katanya.
Ia menekankan bahwa generasi muda membutuhkan pendidikan yang tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat spiritualitas dan akhlak.
Iman, kata Muhudar, menjadi kompas dalam kehidupan, ilmu menjadi bekal untuk menghadapi perubahan, sedangkan akhlak menjadi cerminan kualitas keimanan dan ilmu yang dimiliki.
Karena itu, pendidikan yang dikembangkan Yayasan An-Nur diharapkan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
“Jadikan ilmu sebagai penerang kehidupan, jadikan pendidikan sebagai jalan kemajuan, dan jadikan akhlak sebagai fondasi dalam setiap pengabdian,” pesannya.
Muhudar juga mengingatkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan dan sosial keagamaan untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai keimanan dan akhlak.
Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan keteguhan iman. Kemajuan teknologi juga harus diiringi dengan akhlak, sementara keterbukaan informasi harus disertai kemampuan untuk menyaring dan memanfaatkannya secara bijaksana.
“Kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan keteguhan iman. Kemajuan teknologi harus diiringi dengan akhlak. Dan kebebasan memperoleh informasi harus disertai dengan kemampuan untuk menyaring, memahami, dan menggunakannya secara bijaksana,” tegasnya.
Ia berharap Yayasan An-Nur tidak hanya mampu mengikuti perubahan zaman, tetapi juga dapat memberikan arah dan nilai terhadap perubahan tersebut.
Yayasan An-Nur diharapkan terus hadir dengan ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, pelayanan yang tulus, semangat persaudaraan, serta kepedulian terhadap masyarakat Kota Sorong dan Papua Barat Daya.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Kota Sorong yang memiliki keberagaman suku, budaya, tradisi, dan agama, Muhudar menilai semangat Rahmatan lil ‘Alamin juga penting dalam memperkuat kerukunan.
Keberagaman, menurutnya, bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama.
Ia mendorong Yayasan An-Nur untuk terus mengambil bagian dalam mempererat persaudaraan, membangun kerukunan, menumbuhkan kepedulian, serta menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.
“Yayasan An-Nur diharapkan terus menjadi bagian dari kekuatan yang menjaga kerukunan dan memperkuat persatuan masyarakat Kota Sorong,” ujarnya.
Memasuki usia ke-43, Muhudar juga berharap Yayasan An-Nur semakin kuat dalam tata kelola kelembagaan, transparan dalam pengelolaan, profesional dalam pelayanan, serta adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ia mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan amanah yang harus dijaga. Setiap ilmu yang diajarkan, setiap generasi yang dibimbing, dan setiap kebaikan yang dilakukan diharapkan menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir.
“Mari kita jadikan perjalanan Yayasan An-Nur bukan hanya sebagai perjalanan usia, tetapi sebagai perjalanan manfaat yang terus tumbuh dari generasi ke generasi,” ajaknya.
Pada momentum Milad ke-43 ini, Muhudar berharap Yayasan An-Nur semakin maju, berkembang, dipercaya masyarakat, dan semakin luas memberikan manfaat.
Ia juga mendoakan agar Yayasan An-Nur senantiasa menjadi lembaga yang menghadirkan cahaya, ilmu, kedamaian, dan kemanfaatan bagi masyarakat Kota Sorong, tanah Papua, serta seluruh alam.
“Semoga Yayasan An-Nur semakin maju, semakin berkembang, semakin dipercaya masyarakat, dan semakin luas memberikan manfaat. Semoga terus menjadi cahaya yang menerangi, rahmat yang menyejukkan, dan pengabdian yang tidak pernah berhenti,” pungkasnya.


0 Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar