Aksi antisipasi dampak kekeringan 2026 itu sudah berjalan hampir tiga pekan. Puncaknya, Kamis (13/8/2026), distribusi air dilakukan tepat di depan Kantor Gubernur Papua Barat Daya.
Kepala BWS Papua Barat dan Papua Barat Daya, Wempi Nauw, menyebut ini bentuk kehadiran negara di tengah kesulitan air bersih.
"Hari ini, di kilometer 16, dekat Kantor Pemerintahan Daerah Papua Barat Daya, kami menyediakan sumur air untuk kebutuhan dasar yang dapat dimanfaatkan warga secara gratis," kata Wempi.
Satu titik layanan di KM 16 memiliki kapasitas tampung 18 meter kubik, atau 18.000 liter. Jika cuaca cerah, pengisian bisa dilakukan dua kali sehari. Totalnya mencapai 36.000 liter per hari.
Agar pelayanan tertib, BWS membuka pos khusus. Petugas disiagakan untuk mengatur waktu buka-tutup dan mekanisme pengambilan air.
"Semua warga Kota Sorong dipersilakan datang dan mengambil air di sini. Petugas kami akan bertugas mengatur buka-tutup serta melayani masyarakat," ujarnya.
Namun ada batas tegas. Air ini bukan komoditas. Dilarang untuk diperjualbelikan atau diambil pelaku usaha air minum.
"Kami tidak membolehkan air ini diperjualbelikan. Ini khusus bagi warga yang membutuhkan air untuk mandi, mencuci dan kebutuhan rumah tangga," tegas Wempi.
Ia juga mengingatkan agar air tidak dikonsumsi. Kualitasnya belum memenuhi standar air minum. Fungsinya untuk mandi, cuci, dan kebutuhan rumah tangga.
Selain untuk warga, air ini juga siaga untuk bencana. Dapat digunakan mengisi tangki pemadam saat terjadi kebakaran hutan dan lahan.
"Yang kedua, air ini juga dapat digunakan untuk mengisi tangki dalam rangka memadamkan kebakaran hutan. Jika ada area atau hutan yang terbakar, warga yang membutuhkan air dapat dilayani di sini," jelas Wempi.
Titik KM 16 melayani warga dari KM 13 hingga KM 16. BWS juga telah membangun titik sumur serupa di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.
Kapasitas distribusi sangat tergantung cuaca. Saat cerah, pengisian lancar. Saat mendung, proses melambat.
"Kalau cuaca cerah, pengisian berjalan baik dan bisa dua kali. Tetapi kalau tertutup mendung, pengisian menjadi lebih lambat," kata Wempi.
Secara keseluruhan, ada sekitar 20 unit tangki air yang tersebar di wilayah Papua Barat Daya. Jumlah itu diakui masih belum mencukupi kebutuhan.
"Total titik tangki di wilayah Papua Barat Daya kurang lebih 20 unit. Memang kami merasa itu belum mencukupi, tetapi ada upaya yang terus dilakukan," ungkapnya.
Untuk menutup kekurangan, BWS kini merajut kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, pemerintah kabupaten/kota, dan institusi lain.
"Kami berkolaborasi dengan teman-teman dari provinsi, kabupaten, maupun institusi lain yang ikut memberikan perhatian dalam rangka menyiapkan kebutuhan air bersih atau air baku bagi masyarakat yang terdampak," pungkasnya.


1 Komentar
Tinggalkan Komentar