Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks Niño 3.4 pada dasarian I Agustus 2026 mencapai +2,77, meningkat dibandingkan Juli yang berada pada +2,20. Angka tersebut menunjukkan El Niño telah berada pada intensitas sangat kuat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena El Niño berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dan lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.
“El Nino itu terjadi ketika suhu di permukaan laut, tepatnya di tengah Samudra Pasifik, naik lebih tinggi dari 0,5 derajat Celsius. Jika sudah melewati batas itu, kita mengatakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif. Nah, untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino Kuat. Jadi kita perlu mengantisipasinya,” kata Faisal dalam rapat terbatas mengenai penanganan cuaca ekstrem dan bencana di Istana Merdeka, Jakarta, 28 Juli 2026.
BMKG sebelumnya memprediksi fenomena El Niño dapat bertahan hingga awal 2027. Namun, lembaga tersebut menegaskan dampak El Niño terhadap Indonesia terutama dirasakan ketika fenomena tersebut bertepatan dengan periode musim kemarau.
Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. BMKG memproyeksikan sekitar 48,84 persen wilayah mengalami puncak kemarau pada Agustus, kemudian 25,41 persen pada September.
Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap ketersediaan air dan memperbesar ancaman karhutla. Karena itu, pemerintah telah diarahkan untuk memperkuat langkah mitigasi menghadapi dampak kemarau yang berlangsung bersamaan dengan El Niño.
Faisal mengatakan terdapat dua fokus utama yang perlu dilakukan dalam menghadapi musim kemarau yang dipengaruhi El Niño, yakni menjaga ketersediaan air serta mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Meski El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kemarau tanpa hujan sampai 2027. Dampaknya berbeda antardaerah dan sangat dipengaruhi kondisi musim serta dinamika atmosfer masing-masing wilayah.
BMKG juga tetap mengingatkan bahwa hujan masih dapat terjadi secara lokal meskipun kondisi kemarau mendominasi. Masyarakat diminta mengikuti informasi dan peringatan dini BMKG serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla.
Dengan El Niño yang telah mencapai intensitas sangat kuat, pemerintah daerah dan masyarakat perlu memperkuat kesiapsiagaan, terutama dalam menjaga ketersediaan air dan mencegah aktivitas yang dapat memicu kebakaran selama periode kering.


0 Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar